Pihak Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Wira Karya Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengancam tidak akan memberikan ijazah kelulusan bagi siswa yang dinyatakan lulus, namun melakukan aksi coret baju seragam . "Kami sudah melarang siswa mencoret pakaian seragam nya. Jika tetap dilakukan ijazah nya kami tahan," kata guru SMEA Wira Karya, Blasius Ola Nama kepada wartawan di Kupang, Sabtu, 26 Mei 2012.
Pengumuman kelulusan di sekolah tersebut tampak sepi. Hanya terlihat para orang tua murid yang menghadiri pengumuman dan sejumlah siswa yang menggunakan pakaian bebas. Tidak nampak aksi coret baju atau aksi lain untuk merayakan kelulusan mereka.
Menurut Blasius, jumlah siswa peserta ujian nasional di sekolah itu sebanyak 215 orang. Sebanyak 10 siswa dinyatakan tidak lulus.
Namun aksi coret-coret baju seragam, bahkan aksi ugal-ugalan menggunakan kendaraan roda dua mewarnai dilakukan siswa di sejumlah sekolah lain di Kota Kupang, NTT.
Aksi coret baju seragam dilakukan siswa SMAN 5 Kupang. Bahkan dilakukan sebelum pengumuman kelulusan dikeluarkan sekolah pukul 11.00 WITA.
Para siswa membubuhkan tandatangan di setiap baju seragam teman-teman mereka. Tidak hanya baju seragam, aksi coret juga dilakukan para siswa di bagian wajah dengan berbagai corak warna. Di sekolah tersebut dua orang siswa tidak lulus. "Nilai mereka yang jeblok," ujar seorang guru SMAN 5 Kupang, Mikhael.
Usai melakukan aksi coret di depan sekolah, para siswa melanjutkan dengan aksi konvoi menggunakan kendaraan roda dua dengan ugal-ugalan. Akibatnya Jalan MH Thamrin macet total sepanjang satu kilometer.
Aksi coret dan ugal-ugalan juga dilakukan para siswa SMAN 1, SMAN 2 dan SMAN 3 Kupang. Para siswa tersebut kemudian berkumpul di pusat kota di Jalan Urip Sumoharjo untuk merayakan kelulusan.
Berdasarkan data yang dihimpun kami, tingkat kelulusan siswa tingkat SMA sederajat di NTT terendah secara nasiional. Dari 36.228 siswa peserta ujian nasional, sebanyak 1.994 siswa tidak lulus.
Sumber