Banner 480

Selasa, 04 September 2012

Gelora Ayah Puber Kedua



[imagetag]


[imagetag]

DALAM usia puber kedua, agaknya otak Samijan, 40, isinya selangkangan melulu. Belum puas dengan pelayanan istri, anak tirinya, Ratmi, 16, mau juga dijadikan sasaran. Untung si gadis ABG berteriak: simbok, simbok, sehingga Samijan batal melampiaskan nafsunya, bahkan kini dauber-uber polisi Polres Pacitan (Jatim).

Menurut kalangan ahli Ilmu Jiwa, lelaki usia 40 tahun sampailah pada puber kedua. Dalam usia itu gairah seksnya kembali meningkat, dan maunya roman-romanan melulu. Ibarat listrik, voltase biasanya tinggal 190-200, mendadak naik jadi 240 volt lagi. Celakanya, banyak pula lelaki yang tak merasa cukup dengan alokasi syahwat di rumah. Dianggap pelayanan istri terlalu monoton, dia mencari sasaran lain, tak peduli anak tiri sekalipun.

Salah satu lelaki yang sedang naik voltase itu di antaranya Samijan, warga Desa Kalak Kecamatan Donorojo, Pacitan. Pas dalam usia 40 tahun dewasa ini, mendadak gelora dan gairah asmaranya meledak-ledak. Biasanya dilayani istri seminggu sekali saja sudah nrima, kini mendadak jadi 3 kali seminggu, bahkan kadang tiap hari sang istri harus tanggap darurat syahwat. Tapi namanya istri harus bekti ing laki (berbakti pada suami), setiap permitaan Samijan tak pernah ditolak Ny. Ramini, 40.

Ewa segitu Samijan belum juga puas. Dia menilai pelayanan istri sudah monoton, stereotip, miskin inovasi dan kehilangan semangat pembaruan. Gara-gara itu pula, dia ingin pelayanan ranjang dengan paradigma baru. Kawin lagi, misalnya? Nggaklah, memangnya rokok Jarum mau jadi sponsornya. Maka yang dilirak-lirik kemudian justru Ratmi anak tirinya yang kini sudah berusia ABG.

Pelajar SMA kelas satu ini memang sedang mengkel-mengkelnya. Ibarat mangga, sudah mulai buntel pelok, sebentar lagi pasti kemuning (setengah masak) sehingga syedap untuk rujakan. Padahal namanya anak tiri, Ratmi pasti tinggal serumah, sehingga setiap hari Samijan merasa selalu disuguhi pemandangan yang gersang (seger merangsang). "Iwak teri kepethuk blanak, anak tiri dithuthuk penak (anak tiri enak juga digauli)," begitu kata Samijan dalam otak ngeresnya.

Sejak itu Samijan selalu berfikir, bagaimana mengatur siasat agar Ratmi tunduk dalam kekuasaaannya. Lama-lama kesempatan itu terbuka jua. Di saat istri belanja ke Pasar Baturetno (Wonogiri), dia merasa bahwa situasi demikian aman terkendali. Maka saat anak tiri itu nonton TV sore hari, dia pura-pura menemani. Cuma, duduknya mulai mepet dan mepet, macam naik angkot didesak penumpang baru.

Nah, di kala Ratmi pikirannya fokus pada acara TV, tangan Samijan mulai bergerilnya. Mencoba masuk ke dalam rok si anak tiri. Ratmi segera menepiskan tangan ayahnya dengan mengatakan, "Ampun ngoten lho Pak, boten sae (jangan begitu pak, tidak baik)." Sebetulnya Samijan mau meluncurkan serangan-serangan baru, eh tiba-tiba istri sudah pulang dari Baturetno. Terpaksa serangan senja itu dibatalkan, menunggu perekembangan politik lebih lanjut.

Malam hari pas titi sonya madya ratri (tengah malam), kembali Samijin mau beraksi. Dilihatnya sang istri sudah tidur pulas. Dia segera masuk ke kamar Ratmi. Gadis ABG itu kontan terjaga begitu digerayangi si bapak. Putrinya lari ke kamar mandi, ditunggui. Nah, begitu sudah masuk ke kamarnya, kembali mau digerayangi. Kontan Ratmi menjerit tulung-tulung, "Simbok, simbok, bapak nakal gilo (ibu, bapak mau nakal nih). Kontan saja Ny. Ramini marah-marah. Tapi Samijan yang ketakutan langsung kabur. Ketika dilaporkan ke Polsek Donorojo esuk paginya, Samijan belum diketahui di mana posisinya.

Mau cari yang baru, malah diburu polisi.
#bb32dc


Banner 480 bawah




Your Clicks! Your Earning!